Mengasuh dengan Cinta

Dunia pendidikan di indonesia hari ini sarat dengan suasana kompetisi, persaingan antar sekolah dan orang tua, ketakutan orang tua anaknya nanti tidak bisa bertahan di era globalisasi dan berbagai macam latar belakang lainnya membuat anak dihujani dengan berbagai macam ulangan dan pendidikan yang menitikberatkan pada pengetahuan, hasil di atas proses.

 

Bagaimana di dunia pendidikan musik?Saya sempat bertanya pada diri saya sendiri, haruskah saya membawa suasana demikian di dalam dunia mengajar saya?Rasanya letih sekali kalau harus demikian. Di saat seperti itu, kalimat “Nurtured by Love” ini bisa menjadi panduan bagi kita.Kata “nurtured” ini dalam bahasa indonesianya berarti mengasuh. Dalam 1 kata ini tercakup banyak sekali hal detail. Bayangkan bagaimana seorang ibu membesarkan bayi yang baru lahir. Bayi yang baru lahir minum susunya belum bisa langsung banyak, jadi mereka akan terbangun tiap 2-3 jam sekali. Makanya tidak heran orang yang mengasuh bayi baru lahir punya kantong mata hitam.

Selanjutnya, di awal bukunya yang berjudul “ Nurtured by Love”, Dr. Shinichi mengisahkan bagaimana seekor burung parkit kecil bisa berbicara “ Saya Peeko Miyazawa.” Di awal, nama Peeko diulang di depan burung tersebut sekitar 50 kali per harinya. Begitu terus sampai sekitar 2 bulan, jadi kira-kira 3000x kata tersebut diulang di depan burung parkit itu.  Akhirnya burung itupun bisa mengucapkan “ Peeko”. Setelah itu kata “Miyazawa” ditambahkan. Namun kali ini cukup sekitar diulang 200x burung itu sudah bisa mengucapkan kata kedua. Ini sama persis dengan manusia, apapun yang kita pelajari pada awalnya lambat sampai tercapailah kondisi “berseminya sebuah kemampuan.”

Dari sini ada kesimpulan yang bisa kita ambil, perlu yang namanya kesabaran dan pengulangan baru kita bisa melihat hasil. Karena itu perlu kerja sama yang baik antara guru dan orang tua. Karena pengulangan ini perlu dilakukan tiap hari padahal guru bertemu murid umumnya 1 minggu hanya 1x atau 2x saja.

Selanjutnya, dalam proses membawa anak mengulang apa yang diajarkan perlu yang namanya rasa cinta dan respek. Kita perlu menempatkan diri di pihak anak. Apa yang menjadi kesulitannya, apakah saya senang kalau guru saya memakai “nada tinggi” atau “marah-marah” sepanjang waktu belajar?

Pada akhirnya, saya ingin memberikan sebuah ilustrasi yang saya dapat dari seorang praktisi pendidikan anak usia dini. Kalau kita punya bunga di kebun yang layu, apakah yang akan kita lakukan? Apakah kita akan memarahi bunga tersebut? “Ayo dong, tumbuh dong, tumbuh aja kok ngga bisa?”atau kita akan mengamati, kenapa bunganya layu, kurang air kah? Kurang sinar matahari atau kebanyakan matahari kah? Perlu pupuk kah? Yang mana yang mau kita lakukan? Karena itu penting bagi kita yang dewasa untuk memperlengkapi diri dan membuka wawasan agar nuansa mengasuh dengan cinta bisa kita wujudkan dalam mendidik anak-anak kita.

Yuk, mari kita sama-sama belajar. Entah kita guru atau orang tua atau keduanya, mari kita sama-sama belajar menumbuhkan “bunga-bunga” kecil yang sudah dipercayakan kepada kita dengan penuh cinta. Kita belajar mengenali mereka karena tentunya tiap anak memiliki keunikan dan keistimewaan masing-masing.

 

Meliantha Soenaryo, Guru Piano SMAIflowers opening 2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: